Terungkap, Penyebab Kematian Akibat Leci Di Asia Selatan

Desanwar 28 7 17 49 Hot News
Terungkap, Penyebab Kematian Akibat Leci Di Asia Selatan

IDRUS.CO.-Beberapa waktu lalu, kawasan India terkejut dengan kematian massal anak-anak. Peneliti dari AS dan India mengatakan, maut datang setelah para korban memakan buahleci saat perut kosong.

Lebih dari dua dekade misteri itu menyelimuti kota Muzaffarpur, Bihar. Anak-anak yang awalnya sehat tiba-tiba mengalami kejang dan kehilangan kesadaran. 

Sebuah laporan yang dipublikasikan awal tahun ini di The Lancet mengulas kejadian luar biasa pada tahun 2014 yang merenggut nyawa 122 anak di kawasan Muzzaffarpur, India.

Salah satu kawasan produsen buah leci terbesar di negeri itu dan sebuah kawasan di mana ada kejadian luar biasa timbulnya penyakit setiap tahun yang menyerupai encephalitis akut.

Menurut sebuah temuan baru, sebuah pestisida yang dilarang oleh perjanjian internasional pada tahun 2011 bisa sangat bertanggung jawab atas kematian di antara anak-anak berusia muda di Asia Selatan. Demikian sebuah temuan yang baru-baru ini dirilis.

Dikutip dari laman Voice of America, Jumat (28/7/2017), pada tahun 2012, ada 14 orang anak yang dibawa ke Dinajpur Medical College Hospital di Bangladesh bagian utara dengan kasus encephalitis akut, sebuah pembengkakan di otak yang berbahaya. Sebagian besar hilang kesadaran dalam jangka waktu tiga jam, seluruhnya kecuali satu anak meninggal dalam jangka waktu kira-kira 20 jam.

Kalangan ilmuwan dari The International Center for Diarrheal Disease Research, sebuah lembaga penelitian utama di Bangladesh, menyelidiki apa penyebab dari kejadian luar biasa ini.

Menurut Mohammed Islam selaku peneliti kesehatan, tim kedokteran mengamati hampir semua anak-anak tersebut tinggal dekat sebuah kebunleci, banyak yang tinggal dengan seseorang yang bekerja di industri itu, dan sebagian besar telah berkunjung ke kebun buah-buahan itu persis sebelum mereka jatuh sakit.

 

Laporan itu mengaitkan kejadian luar biasa tersebut pada racun yang timbul secara alami pada buah leci yang dapat menyebabkan anjloknya tingkat gula darah hingga tingkat yang membahayakan pada anak-anak yang kurang gizi.

Namun, sebuah laporan baru pekan ini oleh Islam dan timnya, yang menganalisis kejadian luar biasa pada tahun 2012 dan insiden-insiden yang menyertainya, mencatat bahwa kawasan yang terdampak lebih sering tempat-tempat di mana buah leci diproduksi ketimbang dikonsumsi. Dan kejadian luar biasa ini umumya berlalu saat musim hujan mulai, yang melarutkan residu pestisida dari pohon buah-buahan tersebut.

Para peneliti itu mewawancarai para pekerja di kebun buah leci, keluarganya, dan para tetangga mereka, di samping juga anggota keluarga anak-anak yang tidak jatuh sakit. Mereka mendapati bahwa anak-anak memakan buah yang jatuh ke tanah tanpa dicuci terlebih dahulu, dan mengupas kulit buah leci yang bertekstur kasar dengan giginya.

Para pekerja di kebun buah tersebut mengatakan anak-anak kadang-kadang dipekerjakan untuk membantu selama masa panen, karena mereka dengan mudah dapat memanjat pohon leci yang kecil. Para pekerja tidak selalu dapat melaporkan pestisida apa yang digunakan, oleh karena label pestisida telah dikelupas sebelum wadah pestisida tiba di ladang. Namun demikian, para peneliti berhasil mengumpulkan wadah yang kosong untuk menguji kandungan yang sebelumnya dimasukkan ke wadah itu.

Sebuah laporan yang disusun oleh Islam dan timnya, yang dipublikasikan dalam The American Journal of Tropical Medicine and Hygiene, menemukan sejumlah pestisida --termasuk endosulfan -- telah digunakan di ladang itu.

Endosulfan termasuk jenis  pestisida yang dimasukkan dalam daftar the Stockholm Convention on Persistent Organic Pollutants pada tahun 2011, yang seharusnya tidak digunakan lagi di banyak negara di dunia ini. Namun demikian, lambatnya penerapan, banyaknya perkecualian dan lemahnya penegakan aturan membuat penggunaannya terus berlanjut.

"Endosulfan dibolehkan penggunaannya untuk beberapa tanaman di Bangladesh, tapi tidak termasuk tanaman buah leci," ujar Islam.

Namun demikian, secara keseluruhan, "Tindak pemantauan terkait penggunaan pestisida sangat lemah," ujarnya.

Studi tersebut tidak mampu secara pasti menunjukkan bahwa masing-masing kasus disebabkan oleh pestisida, atau mengenali pestisida mana yang bertanggung jawab terhadap kasus pembengkakan pada otak korban.

Apabila para peneliti dapat merespons dengan cepat pada kejadian luar biasa berikutnya dan mengumpulkan sampel darah dalam hitungan jam, ujar Islam, kalangan ilmuwan seharusnya dapat menentukan pestisida mana yang terdapat dalam darah.

Islam mengatakan, ia ingin berkoordinasi dengan para ilmuwan lain dan melakukan studi lebih lanjut di seluruh Bangladesh dan di India, Vietnam, serta Thailand, di mana kejadian luar biasa serupa telah dilaporkan dan endosulfan kemungkinan masih digunakan pada tanaman.

 



Related Post

Comment