Lantun Gamelan yang Bikin Warga Inggris Jatuh Cinta

Mayanadr10 28 7 17 90 Hot Inspirasi
Lantun Gamelan yang Bikin Warga Inggris Jatuh Cinta

IDRUS.CO

Denting gamelan mengiringi liuk perempuan berbusana tradisional Jawa. Lengking suara khas sinden pun mengalun. Para penari di Summertime Gamelan Showcase, Southbank Centre, London, Inggris itu berwajah eksotis. Namun tidak dengan para pemain gamelan dan sindennya.

Mereka semua berdarah asing. Bule, sebutannya di Indonesia.

Salah satunya adalah Cathy Eastburn. Ia asli Inggris, tapi piawai memainkan gamelan, bahkan menyanyi bak sinden. Sejumlah tembang Jawa terlontar dari mulutnya. Suaranya melengking dan pengucapan bahasa Jawanya fasih. Tak heran ia menyedot perhatian.

Kebanyakan warga London yang hadir, terpukau olehnya.

“Ini sangat sulit dan kompleks,” kata Cathy ditemui usai pentas, Minggu (23/7).

Tapi Eastburn sudah belajar menyinden selama 12 tahun. Ia bahkan rela terbang ke Surakarta, Jawa Tengah untuk belajar menyanyikan lagu khas Jawa tersebut.

Kepada penyanyi Ni Muriah Budiarti lah ia berguru.

Di Inggris, Eastburn juga menimba ilmu sinden dari dua orang. Pesinden Jawa bernama Prasadiyanto dan pesinden asal Inggris, Esther Wilds. Perjuangannya belajar itu jelas tidak mudah.

“Harus memikirkan banyak hal dalam satu waktu. Tunning-nya beda dengan lagu barat, pengejaan, teks, dan memikirkan apa yang dikerjakan orang-orang di sekitar, menyesuaikan dengan musisi,” ujarnya.

Sebelum belajar menyinden, Eastburn terlebih dulu belajar memainkan alat musik seperti gendang, gong dan suling, sejak 21 tahun yang lalu. Anggota kelompok Siswa Sukra di komunitas Southbank Centre itu jatuh hati pada suara gamelan sejak pertama mendengarnya.

Kecintaan Eastburn pada gamelan juga ia tunjukkan dengan membangun yayasan Good Vibrations yang mengajarkan gamelan ke sejumlah narapidana di Inggris. 

Jatuh Cinta pada Gamelan

Eastburn bukan satu-satunya warga Inggris yang jatuh cinta pada gamelan. Sejumlah seniman gamelan asal Inggris juga mempertontonkan keahlian mereka hari itu. Guru gamelan Peter Smith atau yang dikenal dengan nama Jawa Parto, ikut bermain bersama Andy Channing. 

Parto dan anak didiknya tergabung dalam kelompok Thursday Group, menampilkan Ladrang Wilujeng, Tari Gambyong, Tari Driasmara, Gendhing Bondhan Kinanthi dan Tari Bambang Cakil. 

“Ini tadi pentas akhir semester, ada dari kelompok pemula, lumayan, senior, dan anak kecil,” kata Parto. 

Parto telah mengajar gamelan pada anak dari beragam usia selama 21 tahun. Diakuinya, tantangan untuk tiap grup berbeda.

“Kalau anak kecil, tidak tahu mana yang sulit dan tidak jadi bermain saja. Tapi kalau orang dewasa tahu itu sulit, jadi sudah dipikirkan, ‘Wah ini pasti sulit,’” katanya. 

Parto yang lancar berbahasa Jawa halus ini mengaku, kecintaannya pada gamelan muncul saat ia menjadi mahasiswa musik di Universitas York, Inggris. 

Meski tengah belajar piano, rupanya lantunan gamelan membuatnya jatuh hati. Ia lantas memutuskan untuk belajar ke Indonesia melalui program beasiswa Darmasiswa pada 1993. 

Beasiswa yang sama juga diambil Andy Channing yang telah mengajar gamelan Jawa dan Bali sejak tahun 1991 di Inggris. 

Channing adalah Direktur Artistik Kelompok Gamelan Bali Lila Cita yang telah berdiri sejak 2006. Pengajar gamelan di berbagai universitas di Inggris ini pun telah mengarang sejumlah lagu dalam gamelan, Pig in the Kraton.

“Ini saya bikin sudah lama sekali dan berdasar kisah nyata ada babi di Keraton Manahan, Solo,” kata Channing.

Lagu tersebut menjadi favorit di kalangan kelompok gamelan usia remaja. 

Channing mengaku murid-muridnya yang berusia belasan tahun ini kerap meminta untuk mementaskan lagu tersebut dalam ajang pertunjukkan gamelan di London. 

Tiga muridnya, Adrian Angolhgnoy, Samuel Poatng, dan Robert Masuk mengaku senang mempelajari gamelan dan mementaskan lagu karangan gurunya tersebut.

“Ritmenya berbeda dari lagu gamelan yang lain karena lebih cepat dan modern. Ada dua versi, Slendro dan Pelog,” kata Masuk.

Bagi ketiganya, gamelan memberikan warna musik yang berbeda dari yang biasa mereka dengar. “Saya pikir sangat menyenangkan belajar instrumen musik dari negara lain untuk menunjukkan bahwa di luar sana banyak sekali ragam musik,” kata Angolhgnoy.

Related Post

Comment