Inggris 'Terhipnotis' Aksi Silat dan Putaran Gasing Indonesia

Mayanadr10 28 7 17 115 Hot Inspirasi
Inggris 'Terhipnotis' Aksi Silat dan Putaran Gasing Indonesia

IDRUS.CO

Cecep Arif Rahman mengambil kuda-kuda, bersiap meliukkan tubuh untuk memukul dan menendang, bahkan membanting lawan. Tapi ia tak lagi membawa dua pisau lengkung nan tajam seperti aksinya di The Raid 2: Berandal, meski busananya masih serba hitam.

Di Potters Field Park, London, Inggris Minggu (23/7) itu, Cecep yang juga dikenal sebagai seniman silat, memamerkan aksinya. Ia berduet dengan penari Inggris, Julia Schnevitch. Mereka termasuk penampil yang dikerubungi penonton di Festival Wonderful Indonesia.

Itu merupakan rangkaian dari festival mempromosikan budaya Indonesia di tanah Britania Raya selama dua hari, sejak Sabtu (22/7).


Sebagai pesilat, Cecep tak sendiri. Ia ditemani empat pesilat lain dari Indonesia, yakni Tira Tri Kurniawan, Zaenudin Haq, dan Agus Tarmini, yang tergabung dalam Perguruan Panglipur Galih. Mereka mengolaborasikan lima aliran silat dari Indonesia.

Silat dari Cimande, Cikalong, Sabandar, Seraha, dan Betawi mereka godok jadi satu atraksi.

“Jurusnya ada jurus Gunting Panglipur, Peupeuhan Adung Rais, Pamacan Pamonyet, Sabandar Garutan, Gerak Cikalong, Paleredan Jalak Pengkor, dan Sunua,” ujar Cecep dalam wawancara dengan CNNIndonesia.com pada Minggu (23/7) waktu setempat.

Julia hadir di tengah pertunjukan dengan gerakan unik kolaborasi tari Indonesia dengan sejumlah jurus silat. Ia memang pernah belajar silat selama dua bulan di Garut, bersama perguruan tempat Cecep bernaung.

“Maknanya tidak hanya bela diri, tapi bagaimana membangun badan kita menjadi kuat karena kalau kuat, mau apa pun bisa,” kata Cecep.

Setelah atraksi, sejumlah pengunjung dari berbagai negara juga dipersilakan mencoba dan berlatih gerakan dasar dari silat. Mereka yang ingin menjadi seperti Cecep dan pesilat lain, belajar mulai dari pose berdiri hingga jurus kuda-kuda. 


“Dalam silat, mirip perkembangan orang dari bayi sampai dewasa, waktu berbaring, membuat fondasi yang bagus. Kemudian melatih langkah dan tangan,” katanya.

Gerakan dasar itulah yang nantinya akan menentukan langkah selanjutnya dalam silat. Cecep menganalogikan belajar silat laiknya membangun rumah yang membutuhkan fondasi kuat.

Cecep beserta timnya bukan kali pertama pentas di ranah internasional. Selama tiga tahun ia kerap tampil di ajang festival budaya di Perancis. 

“Orang pikir silat cuma untuk isi acara tapi dengan seperti ini, bisa ke mana saja, mau perform, film, teater atau bela diri murni tanpa embel-embel lain,” ujarnya.

Gasing Jadi Idola

Selain silat, sejumlah aksi lain juga digelar seperti permainan tradisional gasing. Beragam gasing mulai dari yang sebesar biji buah hingga yang seberat lima kilogram dipertontonkan oleh Komunitas Gasing Indonesia.

“Gasing seberat lima kilogram itu harus dipegang kuat, kalau tidak kuat akan bahaya untuk orang. Melemparnya juga harus hati-hati,” kata Dayat Bokir, pemain gasing.

Gasing seberat lima kilogram itu bisa tahan berputar hingga satu jam, sementara gasing bambu yang kerap kali dimainkan atau gasing sebesar biji buah hanya bertahan hingga lima menit. Permainan tradisional nan unik itu banyak menarik perhatian pengunjung.

Dayat pun meminta mereka tak takut menjajal langsung. 

Seorang warga Manchester keturunan Timur Tengah yang tengah berkunjung ke festival, Adam Ahmad, tertantang memainkannya. Dayat lantas membantu menarik tali pengikat gasing dan meletakkannya di tangan Adam. 

“Mudah memainkan gasing, ketika saya menggerakkan tangan, saya bisa merasakan gasingnya ikut bergerak. Tapi ketika tangan saya diam, gasing akan berputar di tempat,” kata Adam. 

Adam yang belum pernah memainkan gasing sebelumnya, mengaku tertarik dan akan memainkannya di kemudian hari. Sesuai dengan pernyataan Dayat sebelumnya, “Misinya adalah, bagaimana caranya permainan tradisional bisa terus dikembangkan. Miris kalau lihat anak sekarang banyak memainkan permainan modern dan permainan tradisional ditinggalkan.”

Gasing yang dimainkan Adam merupakan jenis adu putar. Menurut Endi Aras, seniman gasing yang ikut dalam atraksi, ada dua jenis gasing lainnya: gasing adu pukul dan adu bunyi. 

Masing-masing gasing ternyata punya bunyi yang berbeda, tergantung materialnya. Gasing bambu, misalnya, akan mengeluarkan bunyi berbeda dengan gasing seberat lima kilogram yang terbuat dari jenis kayu lainnya. 

“Yang lima kilogram itu dari Lombok, kalau yang bambu itu dari Magelang,” kata Endi.

Permainan gasing seperti itu, menurut Endi, perlu diperkenalkan lebih luas karena bisa menjadi alat untuk berkumpul bersama dengan kerabat. 

Selain di dalam negeri, pelestarian gasing juga dilakukan melalui sejumlah tur yang telah diikuti oleh Endi dan timnya, seperti di Korea, Jepang, dan Brunei Darussalam. 

Komunitas tersebut juga telah bekerja sama dengan sekolah alam di Italia untuk mengembangkan metode permainan ini dalam kurikulum mereka. 

Selain pencak silat dan gasing, di Festival Wonderful Indonesia pengunjung juga dapat menikmati penganan khas Indonesia dan sejumlah produk dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) seperti perhiasan dari mutiara Lombok, batik dari Jawa Barat dan kain dari Sumatera Barat.

(Sumber: CNN)

Related Post

Comment