Kisah Kesukaesan Lee Byung-Chul Membesut Bisnis Samsung Sampai 3 Generasi

Desanwar 19 11 17 48 Hot Inspirasi
Kisah Kesukaesan Lee Byung-Chul Membesut Bisnis Samsung Sampai 3 Generasi

IDRUS.CO - Bagi warga Korea Selatan (Korsel) bekerja di Samsung Electronic memiliki sebuah kebanggan terendiri. Pasalnya, Samsung telah menjadi kerajaan bisnis terbesar di Korea Selatan.

Samsung bisa berdiri berkat jerih payah Lee Byung-Chull, yang telah membesut usahanya tersebut sejak Korea masih berada di bawah kekuasaan Jepang pada tahun 1938. Dia mendirikan perusahaan bernama Samsung, yang mempunyai arti “tiga bintang”, di kota tenggara Daegu. Awalnya, Samsung merupakan pabrik tepung untuk membuat mie dan ekspedisi yang membawa buah dan ikan ke pasar.

Lee Byung-Chull kemudian mendirikan Samsung Electronic Industries pada 1969 yang memproduksi TV dan peralatan rumah tangga. Dia kemudian beralih ke bisnis semikonduktor sebagai tambang emas masa di depan, dia mendirikan perusahaan semikonduktor saat bidang itu masih dalam tahap awal pada tahun 1980an.

Byung-Chull mulai beralih ke barang elektronik tujuh tahun kemudian, setelah Jepang mundur dari Negeri Ginseng tersebut. Pada saat Lee meninggal pada 1987, putra ketiga dan termuda, Lee Kun-Hee mengendalikan kerajaan yang didominasi oleh barang elektronik dan produk listrik, pembuatan kapal, konstruksi dan keuangan.

Sayangnya, Byung-Chull menderita kanker paru-paru saat dia membuat keputusan yang sangat berisiko pada 1983 untuk memasuki semikonduktor. Meski demikian, dia tetap mangambil risiko tersebut dan memungkinkan Samsung mendominasi Korea Selatan.

Setelah kematiannya, anaknya Kun-Hee menggabungkan kedua perusahaan tersebut ke dalam Samsung Electronics pada 1988. Perusahaan ini menembus budaya massa, film, penerbitan, toko serba ada, dan segera dipisahkan sebagai entitas independen di bawah naungan dua saudara laki-laki Kun-Hee, dua dari lima kakak perempuan dan iparnya.

Kakak iparnya, Hong Seok-Hyun, mulai spin off Samsung dari pemiliknya Hong Jin-Ki dan Lee Byung-Chull. Divisi tersebut, kemudian masuk ke lini media dan membuat koran JoongAng Ilbo pada 1968. Kala itu, mereka mendapatkan dukungan mantan menteri kabinet di bawah presiden pertama Korea Selatan, Syngman Rhee, untuk menjalankannya.

Hong menyarankan putra Lee, Kun-Hee, yang bekerja di koran tersebut. Di sana dia bertemu dengan putrinya, Ra-Hee, saudara perempuan dari Seok-Hyun.

Perusahaan ini terus berkembang, hingga menyumbangkan 21% dari PDB Korea, menurut Chung Sun-Sup, CEO firma riset Chaebul.com. Samsung terus berkembang meski Chairman Lee Kun-Hee dalam keadaan koma di Rumah Sakit Samsung setelah serangan jantung pada 2014.

Putranya, Wakil Ketua Lee Jae-Yong, terjerumus dalam skandal yang menyebabkan penangkapan Park Geun-Hye. Dia pun dipecat dari jabatannyasebagai presiden dan sekarang dipenjara untuk lima tahun ke depan atas usaha penyuapan dan penggelapan uang. Meski begitu, skandal ini tidak berdampak langsung pada Samsung Electronics.

Kini, sebagai generasi ketiga, grup inti Samsung mencakup 62 perusahaan, 16 di antaranya di Bursa Efek Korea dengan 25% kapitalisasi pasar yang dipimpin oleh Samsung Electronics sebesar 20%. Penjualan kuartal ketiga Electronics diperkirakan mencapai USD55 miliar, meningkat hampir 29,7% dari tahun lalu.

Sementara itu, laba operasi kuartalan sebesar USD 12,8 miliar, meningkat sebesar 179%, dan keuntungan bersih sebesar USD 9,87 miliar, naik dari USD 4,03 miliar, sementara saham mencapai rekor tertinggi.

Penjualan Samsung Electronics tahun lalu mencapai hampir USD180 miliar dari keseluruhan penjualan sebesar USD249 miliar ditambah USD42 miliar dari lainnya yang disewa oleh spin-off dari grup tersebut, termasuk CJ, Hansol, Shinsegae dan JoongAng Media.

Namun, pertanyaannya adalah mampukah perusahaan warisan Lee Byung-Chull ini bertahan dari fenomena yang terus berkembang? Atau apakah Lee Jae-Yong menemukan bahwa mempertahankan kontrol dari balik jeruji besi tidak mungkin dilakukan?



Related Post

    Article not found!

Comment