ALE Siap Luncurkan Hujan Meteor di Hiroshima

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: article/article_view.php

Line Number: 13

Backtrace:

File: /home/admin/public_html/idrus.co/cszcms/modules/plugin/views/article/article_view.php
Line: 13
Function: _error_handler

File: /home/admin/public_html/idrus.co/cszcms/third_party/MX/Loader.php
Line: 357
Function: include

File: /home/admin/public_html/idrus.co/cszcms/third_party/MX/Loader.php
Line: 300
Function: _ci_load

File: /home/admin/public_html/idrus.co/cszcms/libraries/Template.php
Line: 119
Function: view

File: /home/admin/public_html/idrus.co/cszcms/libraries/Template.php
Line: 96
Function: load

File: /home/admin/public_html/idrus.co/cszcms/modules/plugin/controllers/Article.php
Line: 282
Function: loadSub

File: /home/admin/public_html/idrus.co/index.php
Line: 340
Function: require_once



Powered by CSZ CMS | Open Source Content Management with responsive
1 1 18 76 Hot Milenia
ALE Siap Luncurkan Hujan Meteor di Hiroshima

IDRUS.CO - Hujan meteor tak hanya menjadi suguhan alam. Perusahaan rintisan atau startup Jepang, ALE, mengumumkan siap menampilkan hujan meteor buatan di area Prefektur Hiroshima pada 2019.

Perusahaan tersebut menggunakan satelit untuk membuat tampilan hujan meteor kapan saja dan dalam pilihan warna apapun. Masing-masing akan terlihat sejauh 100km ke segala arah.

‘Peluru’ akan dilepaskan dari satelit dan terbakar saat mencapai atmosfer bumi, dan setiap peluru bisa bertahan hingga sepuluh detik. Tapi, harganya tidak murah, dengan biaya hanya satu meteor jatuh mulai satu juta yen (Rp108 juta).

“Hari ini orang biasanya menatap smartphone mereka. Saya ingin membuat orang untuk menatap langit kembali,” ujar Chief Executive Officer dan pendiri ALE, Dr. Lena Okajima.

“Ini buatan, tapi saya ingin membuat yang benar-benar indah yang bisa mengesankan orang-orang,” kata Dr. Okajima, sambil menambahkan setiap ‘bintang’ akan benar-benar hancur sebelum mereka menyentuh tanah.

Rencananya adalah mengirim satelit yang berisilkan 300 sampai 400 peluru ke orbit 500 kilometer di atas Australia. Dari situ, akan memakan waktu sekitar 15 menit sebelum jatuh di atas Setouchi. Peluru buatan tersebut juga bisa terbakar lebih terang dan lebih lama dari meteor alami.

Dr. Lena Okajima menginginkan kreasinya siap digunakan saat Olimpiade 2020.

Ambisi startup Negeri Matahari Terbit itu sudah pernah disampaikan pada tahun lalu. Dalam pengumumannya kali ini, startup tersebut menegaskan sudah siap menampilkan fenomena langit tandingan tersebut.

Tujuan proyek ini bukan hanya untuk bersenang-senang, ada juga aspek ilmiah di balik itu. Ilmuan bisa mengungkapkan suhu dan kerapatan atmosfir, dan pergerakannya, dan bahkan bisa mengungkapkan petunjuk tentang perubahan lingkungan. Dan membandingkan karakteristiknya dengan meteor jatuh ‘alami’ bisa mengungkapkan komposisi meteor. 



Related Post

Comment