Rupiah Kembali Dekati Rp13.600, Dolar Makin Menguat

Economia 8 2 18 41 News
Rupiah Kembali Dekati Rp13.600, Dolar Makin Menguat

IDRUS.CO

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot pada perdagangan Kamis (8/2/2018) terus melanjutkan pelemahan sejak awal bulan ini.

Mengutip Bloomberg, kurs rupiah terhadap dolar AS dibuka melemah 40 poin atau 0,29 persen di level Rp13.595 setelah ditutup di level Rp13.555 pada posisi kemarin.

Hingga pukul hingga pukul 09:00 rupiah terus bergerak turun ke level Rp13.599 per dolar AS, melemah 44 poin atau 0,32 persen. Penurunan yang terjadi sejak awal bulan lalu itu pun membuat kenaikan rupiah sejak awal tahun hilang.

Sementara itu, data Yahoo Finance juga mencatat kurs rupiah dibuka di level Rp13.552 per dolar AS atau turun tipis 2 poin dibandingkan posisi penutupan kemarin. Namun, hingga pukul 09:05, rupiah turun 43 poin 26 poin atau 0,32 persen di level Rp13.593 per dolar AS.

Pelemahan rupiah tersebut tidak terlepas dari tren dolar AS yang terus menguat di tengah optimisme terhadap membaiknya perekonomian Negeri Paman Sam. Reza Priyambada, Binaartha Sekuritas memperkirakan mata uang Garuda hari ini bergerak pada kisaran support 13.580 dan resisten 13.545. 

“Sentimen positif di dalam negeri kurang kuat mengangkat rupiah. Laju rupiah tertahan di atas target support 13.600 dan diharapkan pelemahan dapat lebih terbatas. Tetap waspadai berbagai sentimen yang dapat memicu pelemahan kembali," kata Reza dalam risetnya, Kamis (8/2/2018).

Pada hari sebelumnya, kata Reza, pergerakan rupiah kembali melemah meski kenaikan dolar AS mulai terbatas. Meski dalam negeri masih terdapat sentimen positif, tapi tidak cukup kuat mengangkat laju rupiah. Sentimen positif datang dari Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo yang menyatakan fundamental perekonomian Indonesia yang terus membaik akan menjadi penarik utama masih derasnya investasi langsung luar negeri (foreign direct investment atau FDI) di 2018.

“Meskipun memasuki tahun yang penuh dengan agenda politik, kemungkinan suku bunga acuan BI akan tetap. Sebab, BI akan lebih mengandalkan kebijakan makroprudensialnya dan instrumen non-bunga untuk memacu pemulihan pertumbuhan ekonomi,” kata dia.

Selain itu, lanjut Reza, sentimen positif juga datang dari pernyataan Menteri Keuangan, Sri Mulyani, yang memastikan bahwa Indonesia terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang telah terjalin dengan baik dengan mempertahankan stabilitas kinerja dari Anggaran Pendapatan Belanja Pemerintah (APBN).

“Dengan adanya sentimen-sentimen tersebut, pelaku pasar lebih memilih menahan diri sehingga laju rupiah masih terlihat tertahan,” ucapnya.



Related Post

Comment