Dedi Mulyadi Sebut Kekerasan Atas Nama Suporter Sama Seperti Terorisme

Purnamacerahhati 27 7 17 129 Hot News
Dedi Mulyadi Sebut Kekerasan Atas Nama Suporter Sama Seperti Terorisme

IDRUS.CO

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menyesalkan kembali jatuhnya korban tewas akibat fanatisme suporter. Tewasnya Rico Andrean (22) menandakan adanya pergeseran dari fanatisme kini menjadi ideologi. Bak teroris, politisi Golkar tersebut menyebutnya.

"Jadi kekerasan yang dilakukan atas nama keyakinan terhadap kelompok suporter atau terhadap klub itu kategorinya sama kayak terorisme," kata Dedi Mulyadi usai menghadiri dialog kebangsaan Pancasila dan Budaya, di Kampus Unpar, Bandung, Kamis (27/7).

Dia mengatakan, sejatinya olahraga dan instrumen lain harusnya bisa fokus pada pencapaian prestasi bukan anarki. Menjunjung tinggi sportivitas tidak seharusnya keributan terjadi, apalagi sampai harus menelan korban tewas seperti halnya Rico.

Sekadar diketahui‎ Rico dikeroyok sejumlah bobotoh seusai laga Persib Bandung kontra Persija Jakarta, di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung, Sabtu lalu.

Rico tuding sebagai salah satu pendukung Persija atau Jak Mania. Rico mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya dan juga geger otak. ‎Lima hari kritis di Rumah Sakit Santo Yusuf, pemuda 22 tahun itu mengembuskan napas terakhirnya pada Kamis (27/7) pukul 10.15 WIB.

‎"‎Nah, kalau ginikan bahaya. Kita lihat kalau liat baju viking harus digebukin. Ada yang baju Persija digebukin. Kan bahaya," sebutnya.

Dia menyatakan, pergeseran fanatisme menjadi ideologi itu memang berdampak pada kebencian. Ambil contoh, kelompok-kelompok radikal yang saat ini menganggap kepolisian sebagai thogut atau kafir. Penyerangan itu menjadi serupa dengan apa yang dilakukan kelompok suporter satu dengan suporter lainnya.

"Kan hampir sama dengan pencekokan pada terorisme. Kalau ada tanda-tanda kafir seperti ini dia harus dibunuh. Kalau polisi harus ditembak. Kan sama bukan?," jelasnya.

"Menurut saya tindakan apapun yg di dalamnya kekerasan itu dilarang di Indonesia.‎"

Dia menyarankan, manajerial fans di Indonesia harus segera dibenahi. Bukan cuma tanggung jawab Menteri Pemuda dan Olahraga saja, tapi beberapa Kementerian lainnya juga harus sama-sama turut mengatasinya.

"Bukan hanya menteri olahraga, menteri agamanya turun, menteri polhukamnya turun karena bahaya. Ini bisa turunan.‎ Psikologinya harus turun," tandasnya. (ade)



Related Post

Comment