Bandung Kritis, Penurunan Air Tanah Sangat Parah

Desanwar 27 7 17 84 Hot News
Bandung Kritis, Penurunan Air Tanah Sangat Parah

IDRUS.CO Penurunan muka air tanah Kota Bandung paling parah dibandingkan kota-kota besar lainnya di Indonesia. “Rata-rata penurunan muka air tanahnya antara 1 meter sampai 4 meter per tahun,”hal itu dikatakan Kepala Pusat Lingkungan Geologi, Badan Geologi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Achmad Djumarma Wirakusumah.
Menurutnya, ada tiga kota besar yang terhitung paling parah penurunan muka air tanahnya, yakni Jakarta, Bandung, dan Semarang. Dari ketiganya, penurunan air tanah permukaan di Kota Bandung terparah. Jakarta sendiri penurunan muka air tanahnya hanya berkisar antara 1 - 3 meter per tahun. Sementara Kota Semarang berkisar 1 - 2,5 meter per tahun.

Kendati paling parah, urai Achmad, penurunan permukaan air tanah di Kota Bandung relatif tidak terlalu terlihat di bandingkan dengan kejadian serupa di Jakarta dan Semarang yang berada di pesisir pantai. Di dua kota itu, jelasnya, dampak penurunan air tanah lebih terasa. Di antaranya berupa intrusi air laut dan rob atau air laut yang menggenangi daratan.

Di Jakarta sendiri, menurut Achmad, intrusi air laut sudah merasuk rata-rata pada wilayah yang berjarak antara 8 sampai 11 kilometer dari bibir pantai.

Di Bandung Raya, lembaga itu mempunyai empat titik pemantauan air tanah yakni Leuwigajah, Majalaya, Rancaekek, dan Kebon Kawung. Pada titik-titik pemantauan itu, urainya, kedalaman muka air tanah sudah mencapai -80 meter sampai -90 meter. “Dulu pada 20 tahun sampai 25 tahun yang lalu, muka air tanahnya tercatat antara 0 meter sampai + 10 meter,” katanya.

Sama seperti kota-kota besar lainnya, jelasnya, penurunan muka air tanah disebabkan oleh pemakaian air tanah yang berlebihan untuk kepentingan industri. Untuk meredamnya, urainya, pihaknya bersama beberapa pemerintah daerah tengah menggodok beberapa kebijakan mengenai pemakaian air tanah.

Di antaranya merumuskan penetapan satuan harga untuk pemakaian air tanah. Selama ini yang sudah ada adalah permumusan satuan harga untuk pemakaian air permukaan. “Nantinya satuan harga pemakaian air tanah bakal lebih mahal dari pemakaian air permukaan,” kata Djumarma.

Langkah lainnya, secara bertahap mengurangi titik-titik pengeboran air tanah yang sudah ada sebanyak 10 persen dari jumlah yang ada setiap tahunnya. “Ijinnya juga makin ketat.”


Related Post

Comment